Pontianak – Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pontianak melaksanakan program Ihya Ramadan yang difokuskan pada penguatan kompetensi keagamaan siswa. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai tanggal 9 hingga 13 Maret, dan dilaksanakan di kelas masing-masing dengan pendampingan para guru yang memiliki kualifikasi sesuai dengan materi yang diajarkan.
Program Ihya Ramadan tahun ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktik ibadah siswa. Terdapat tiga kompetensi utama yang menjadi fokus pembinaan, yaitu perbaikan bacaan Al-Qur’an (tahsin), praktik salat jenazah, serta pemahaman dan tata cara salat masbuk.
Kepala MAN 1 Pontianak, Sholihin HZ, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya madrasah dalam memperkuat karakter religius siswa sekaligus meningkatkan kemampuan praktis mereka dalam menjalankan ibadah.
“Bulan Ramadan adalah momentum yang sangat tepat untuk memperkuat hubungan siswa dengan ibadah. Melalui program Ihya Ramadan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan ibadah dengan benar,” ujar Sholihin HZ.
Pada sesi tahsin Al-Qur’an, para siswa dibimbing untuk kelancaran membaca Al-Qur’an. Kegiatan ini dipandu oleh guru-guru yang memiliki kompetensi di bidang tilawah dan pembelajaran Al-Qur’an. Dengan bimbingan yang lebih intensif, diharapkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa semakin baik dan sesuai dengan kaidah yang benar.
Sementara itu, pada materi praktik salat jenazah, siswa diberikan pemahaman tentang tata cara pelaksanaan salat jenazah secara lengkap, mulai dari niat, jumlah takbir, bacaan, hingga doa-doa yang dibaca dalam setiap tahapannya. Pembelajaran ini tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga melalui praktik langsung agar siswa benar-benar memahami prosedurnya.
Adapun pada materi tata cara salat masbuk, siswa diajak memahami kondisi-kondisi ketika seseorang datang terlambat dalam salat berjamaah serta bagaimana cara menyempurnakan salat tersebut dengan benar. Penjelasan disertai simulasi agar siswa dapat memahami berbagai situasi yang mungkin terjadi dalam praktik ibadah sehari-hari.
Selama kegiatan berlangsung, setiap kelas didampingi oleh guru yang memiliki latar belakang dan kompetensi yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Pendampingan ini diharapkan dapat memberikan bimbingan yang lebih maksimal sehingga siswa dapat memahami dan mempraktikkan materi dengan baik.
Dalam arahannya kepada para guru pendamping, Kepala MAN 1 Pontianak menekankan agar kegiatan Ihya Ramadan benar-benar difokuskan pada tiga kompetensi utama tersebut. “Saya berharap para guru pendamping dapat menitikberatkan pembinaan pada tiga hal penting ini, yaitu tahsin Al-Qur’an, praktik salat jenazah, dan pemahaman salat masbuk. Ketiga hal ini merupakan pengetahuan dasar yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim,” ungkapnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan ibadah siswa, tidak hanya selama Ramadan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kita, setelah mengikuti kegiatan ini, siswa menjadi lebih percaya diri membaca Al-Qur’an dengan baik, memahami tata cara salat dalam berbagai kondisi, serta mampu melaksanakan salat jenazah ketika dibutuhkan di tengah masyarakat,” tambahnya. Melalui program Ihya Ramadan ini, MAN 1 Pontianak terus berkomitmen menjadikan madrasah sebagai tempat yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga kuat dalam pembinaan nilai-nilai keagamaan dan praktik ibadah. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu sarana pembentukan generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan memiliki pemahaman agama yang baik.**









